Showing posts with label Investasi dan Keuangan. Show all posts
Showing posts with label Investasi dan Keuangan. Show all posts

Wednesday, November 7, 2012

5 Mitos Utama Investasi di Pasar Modal - Investor Sibuk

Pada tulisan Saya kali ini, Saya mengambilnya dari digital report dan audio mp3 "5 Mitos Utama Investasi di Pasar Modal" yang bisa Anda dapatkan secara gratis di website Investor Sibuk.
Ada 5 Mitos utama mengenai investasi di pasar modal, yakni :
1. Berinvestasi di saham mengandung resiko tinggi
2. Butuh uang dalam jumlah besar untuk berinvestasi di pasar saham
3. Saya tidak punya banyak waktu untuk memantau harga saham
4. Investasi di pasar saham butuh banyak info
5. Main saham adalah cara cepat menjadi kaya

Mungkin dalam tulisan kali ini tidak mungkin Saya bisa membahas semuanya,
Saya akan menjelaskan Salah satunya, yakni "investasi di saham mengandung resiko tinggi". Padahal tidak selamanya demikian.
Apakah benar bahwa berinvestasi saham bersifat "high risk high return"? Jawabannya: tergantung, bisa ya dan bisa juga tidak!

Sebenarnya...resiko dalam setiap hal tergantung dari tingkat pemahaman anda terhadap hal
tersebut. Saya ingin Anda bertanya pada diri Anda sendiri. Sebagai contoh, apakah
menyetir mobil itu berbahaya ?

YA, jika Anda tidak pernah belajar mengemudi dan tidak dapat membaca petunjuk
jalan. Tetapi.... ketika Anda sudah mengerti betul bagaimana cara mengemudi yang
benar dan cara membaca petunjuk jalan, tentunya menyetir akan terasa sangat
mudah dan hampir tidak ada resiko.

Coba Anda renungkan lagi, seandainya keponakan atau anak Anda yang berusia 5
tahun Anda perintahkan untuk menyetir mobil, lalu Anda duduk di sampingnya.
Apakah menyetir mobil itu beresiko ? Absolutely YES! Mengapa?

Karena seorang anak berusia 5 tahun tentunya tidak dapat mengemudi dan membaca petunjuk
jalan. Saya berani jamin, jantung Anda akan berdebar kencang saat Anda
memperbolehkan keponakan/anak Anda yang berusia 5 tahun untuk menyetir dan
Anda duduk di sampingnya.

Sama halnya dengan berinvestasi di bursa saham. Mayoritas investor pada
umumnya tidak memiliki cukup pengetahuan tentang siklus ekonomi, siklus pasar,
dan bagaimana suku bunga , harga minyak, emas, dan ekonomi global berpengaruh
terhadap pergerakan harga saham. Kebanyakan dari mereka hanya memiliki
pengetahuan yang sedikit (low Financial Intelligence).

Jika mereka memiliki pengetahuan, mereka tidak akan mengalami loss yang begitu
besar, sampai-sampai ada yang bunuh diri karena gagal berinvestasi di pasar modal.
Saya sering kaget ketika mendengar orang-orang yang berinvestasi di pasar modal
tanpa ilmu, melainkan berdasarkan feeling/hokkie saja.

Ketika Anda sudah memiliki pengetahuan menyeluruh dalam berinvestasi di pasar
modal dan mengetahui aturan berinvestasi yang aman, investasi tidak lagi terlalu
beresiko. Ketika Anda tahu apa yang Anda lakukan, semuanya akan terasa mudah.

Jadi, investasi di pasar modal lebih cocok disebut dengan sebutan HIGH RETURN WITH
ADJUSTED RISK ! Artinya, Anda tahu berapa persen besar modal yang akan Anda
resikokan.

Namun... tetap saja segala hal yang Anda lakukan memiliki resiko. Saya juga
tidak mengatakan bahwa investasi di saham beresiko rendah. Harus diakui bahwa investasi
di saham tentunya lebih beresiko dibandingkan jika Anda berinvestasi di instrumen perbankan
seperti deposito. Tetapi sekali lagi... resiko bisa Anda kontrol jika Anda tahu caranya !

Demikian dari Saya.....Jika Anda merasa info ini bermanfaat dan ingin mendapatkan tips
dan trik lainnya, Anda dapat mengunjungi website Investor Sibuk
Di sana, Anda dapat memperoleh digital report dan audio book "5 mitos utama di pasar modal" secara GRATIS!
digital report dan audio book ini disusun oleh Ferdie Darmawan, seorang anak muda berusia 21 tahun
yang berbaik hati membagikan pengalaman investasi di tengah kesibukan kuliahnya.

Klik di sini untuk mendapatkannya secara gratis!

Thursday, October 11, 2012

Investasi di Saham = Judi ?

Pernahkah Anda mendengar orang berkata hal-hal di bawah ini ketika mendengar kata 'investasi', khususnya investasi di pasar modal ?
· Saya kehilangan setengah uang tabungan saya ketika pasar modal mengalami crash,
· Setiap kali saya membeli saham, saham tersebut turun,
· Lebih baik didepositokan saja karena lebih aman,
· Berinvestasi sangat beresiko, Anda dapat kehilangan seluruh modal Anda,
· Membeli saham seperti berjudi,
· Uang yang saya investasikan untuk anak saya sekolah akibat crash di bursa, hilang begitu saja !
· Banyak orang bunuh diri karena gagal dalam berinvestasi di saham

Mitos-mitos ini lahir karena Anda selalu didoktrin dengan fakta-fakta dari bank atau
ahli keuangan bahwa yang namanya high return pastilah high risk. Untuk
memperoleh return yang tinggi, Anda harus menjadi seorang risk taker! Kebanyakan
orang tidak suka mengambil resiko, makanya mereka sama sekali tidak mencoba
menginvestasikan uangnya di pasar modal, karena takut akan resiko yang begitu
besarnya.

Kebanyakan orang menjadi phobia terhadap pasar modal. Mereka percaya bahwa
investasi itu terlalu beresiko dan lebih baik menyimpan uang di bank. Mereka lebih
baik menerima return 4-5% saja dari deposito dibandingkan meraih puluhan hingga
ratusan persen dari pasar modal.

Sayang sekali, karena orang-orang ini melewatkan salah satu dari cara-cara paling
dahsyat dalam membangun kekayaan. Dengan tidak berinvestasi, uang anda akan
tergerus inflasi.

Satu kabar gembira untuk anda : High return tidak harus high risk ! Apakah benar
bahwa berinvestasi di bursa saham terlalu beresiko ? Jawabannya … TERGANTUNG.
Bisa ya, bisa juga tidak ! Mau tahu kenapa demikian ?

Jika Anda ingin mendapatkan jawabannya, Anda bisa download gratis digital report dan audio mp3 karangan teman Saya, Ferdie Darmawan
secara Gratis di http://www.investorsibuk.com/?id=1894

Tuesday, October 9, 2012

Investor Sibuk - Kata Siapa Investasi di Saham Beresiko Tinggi

Pada tulisan Saya kali ini, Saya mengambilnya dari digital report dan audio mp3 "5 Mitos Utama Investasi di Pasar Modal" yang bisa Anda dapatkan secara gratis di website Investor Sibuk.
Ada 5 Mitos utama mengenai investasi di pasar modal, yakni :
1. Berinvestasi di saham mengandung resiko tinggi
2. Butuh uang dalam jumlah besar untuk berinvestasi di pasar saham
3. Saya tidak punya banyak waktu untuk memantau harga saham
4. Investasi di pasar saham butuh banyak info
5. Main saham adalah cara cepat menjadi kaya

Mungkin dalam tulisan kali ini tidak mungkin Saya bisa membahas semuanya,
Saya akan menjelaskan Salah satunya, yakni "investasi di saham mengandung resiko tinggi". Padahal tidak selamanya demikian.
Apakah benar bahwa berinvestasi saham bersifat "high risk high return"? Jawabannya: tergantung, bisa ya dan bisa juga tidak!

Sebenarnya...resiko dalam setiap hal tergantung dari tingkat pemahaman anda terhadap hal
tersebut. Saya ingin Anda bertanya pada diri Anda sendiri. Sebagai contoh, apakah
menyetir mobil itu berbahaya ?

YA, jika Anda tidak pernah belajar mengemudi dan tidak dapat membaca petunjuk
jalan. Tetapi.... ketika Anda sudah mengerti betul bagaimana cara mengemudi yang
benar dan cara membaca petunjuk jalan, tentunya menyetir akan terasa sangat
mudah dan hampir tidak ada resiko.

Coba Anda renungkan lagi, seandainya keponakan atau anak Anda yang berusia 5
tahun Anda perintahkan untuk menyetir mobil, lalu Anda duduk di sampingnya.
Apakah menyetir mobil itu beresiko ? Absolutely YES! Mengapa?

Karena seorang anak berusia 5 tahun tentunya tidak dapat mengemudi dan membaca petunjuk
jalan. Saya berani jamin, jantung Anda akan berdebar kencang saat Anda
memperbolehkan keponakan/anak Anda yang berusia 5 tahun untuk menyetir dan
Anda duduk di sampingnya.

Sama halnya dengan berinvestasi di bursa saham. Mayoritas investor pada
umumnya tidak memiliki cukup pengetahuan tentang siklus ekonomi, siklus pasar,
dan bagaimana suku bunga , harga minyak, emas, dan ekonomi global berpengaruh
terhadap pergerakan harga saham. Kebanyakan dari mereka hanya memiliki
pengetahuan yang sedikit (low Financial Intelligence).

Jika mereka memiliki pengetahuan, mereka tidak akan mengalami loss yang begitu
besar, sampai-sampai ada yang bunuh diri karena gagal berinvestasi di pasar modal.
Saya sering kaget ketika mendengar orang-orang yang berinvestasi di pasar modal
tanpa ilmu, melainkan berdasarkan feeling/hokkie saja.

Ketika Anda sudah memiliki pengetahuan menyeluruh dalam berinvestasi di pasar
modal dan mengetahui aturan berinvestasi yang aman, investasi tidak lagi terlalu
beresiko. Ketika Anda tahu apa yang Anda lakukan, semuanya akan terasa mudah.

Jadi, investasi di pasar modal lebih cocok disebut dengan sebutan HIGH RETURN WITH
ADJUSTED RISK ! Artinya, Anda tahu berapa persen besar modal yang akan Anda
resikokan.

Namun... tetap saja segala hal yang Anda lakukan memiliki resiko. Saya juga
tidak mengatakan bahwa investasi di saham beresiko rendah. Harus diakui bahwa investasi
di saham tentunya lebih beresiko dibandingkan jika Anda berinvestasi di instrumen perbankan
seperti deposito. Tetapi sekali lagi... resiko bisa Anda kontrol jika Anda tahu caranya !

Demikian dari Saya.....Jika Anda merasa info ini bermanfaat dan ingin mendapatkan tips
dan trik lainnya, Anda dapat mengunjungi website Investor Sibuk
Di sana, Anda dapat memperoleh digital report dan audio book "5 mitos utama di pasar modal" secara GRATIS!
digital report dan audio book ini disusun oleh Ferdie Darmawan, seorang anak muda berusia 21 tahun
yang berbaik hati membagikan pengalaman investasi di tengah kesibukan kuliahnya.

Klik di sini untuk mendapatkannya secara gratis!

Monday, October 8, 2012

InvestorSibuk - Bagaimana Meraih Profit Konsisten di Bursa Saham Hanya dengan 10 Menit Setiap Minggunya

Sesungguhnya banyak sekali instrumen untuk berinvestasi.
Tapi ijinkan Saya membeberkan cara berinvestasi di bursa saham.
Memang cara yang akan diajarkan tidaklah mudah, karena segala sesuatunya selalu butuh kerja keras di awal, tetapi akan membantu Anda mendapatkan passive income secara konsisten.

Banyak sekali mitos yang beredar di masyarakat mengenai investasi di pasar modal. Beberapa mitos itu di antaranya ,"pasar modal seperti judi!", "Anda harus berada di depan layar komputer terus menerus!", "Pasar modal adalah cara untuk menjadi cepat kaya!", dan berbagai mitos "berbahaya" lainnya.

 Yang perlu Anda perhatikan dalam berinvestasi sebenarnya adalah 'bagaimana Anda bisa melakukan kontrol terhadap psikologis Anda' dan menemukan karakteristik investasi Anda sendiri.
Banyak orang menyebut investasi saham dengan istilah "main saham". Ini artinya mereka menganggap saham adalah sebuah mainan sehingga kebanyakan orang tidak mau belajar terlebih dahulu, melainkan langsung masuk ke pasar dengan strategi "untung-untungan" atau "feeling so good". Mengapa demikian? Sekali lagi... itu semua terjadi karena kebanyakan orang menganggap bahwa saham adalah sebuah 'mainan'.

Tanpa ilmu yang cukup, berinvestasi di pasar modal hanya akan membuat Anda berdarah-darah dan menjadi kecewa. Akhirnya, Anda akan menyalahkan bahwa investasi di pasar modal penuh dengan penipuan dan sifatnya seperti judi. Padahal, pasar modal adalah sarana bagi perusahaan untuk mengumpulkan dana. Ini artinya, saham menunjukkan kinerja dari suatu perusahaan tersebut. Coba Anda pikirkan, mana ada sih perusahaan yang mau rugi? Jadi... dalam jangka panjang sebenarnya harga saham selalu mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan income dari perusahaan yang bersangkutan. Lalu, kenapa masih banyak orang mengalami kerugian dan malah ada yang bunuh diri segala ?

Banyak sekali hal-hal kontroversial di pasar modal, salah satunya adalah perbedaan antara investasi dan trading. Banyak orang tidak dapat membedakan kedua style dalam pasar modal ini. Beberapa orang yang tidak punya banyak waktu malah ada yang melakukan trading sesering mungkin dan beranggapan bahwa investasi di pasar modal harus 'memelototi' pasar secara terus menerus. Padahal... yang terjadi tidaklah demikian.

Demikian pendapat dari Saya mengenai dunia pasar modal... Jika Anda ingin mendapatkan informasi lebih banyak lagi, Anda bisa mendapatkannya secara Gratis dalam sebuah digital report dan audio Mp3 "5 Mitos Utama Investasi di Pasar Modal" karya teman saya Ferdie Darmawan, sebuah panduan untuk memulai investasi di pasar modal
Anda bisa mendapatkannya di sini :
http://www.investorsibuk.com/?id=1894

Monday, September 26, 2011

Warren Buffett

Warren Edward Buffett was born on August 30, 1930 to his father Howard, a stockbroker-turned-Congressman. The only boy, he was the second of three children, and displayed an amazing aptitude for both money and business at a very early age. Acquaintances recount his uncanny ability to calculate columns of numbers off the top of his head - a feat Warren still amazes business colleagues with today. At only six years old, Buffett purchased 6-packs of Coca Cola from his grandfather's grocery store for twenty five cents and resold each of the bottles for a nickel, pocketing a five cent profit. While other children his age were playing hopscotch and jacks, Warren was making money. Five years later, Buffett took his step into the world of high finance. At eleven years old, he purchased three shares of Cities Service Preferred at $38 per share for both himself and his older sister, Doris. Shortly after buying the stock, it fell to just over $27 per share. A frightened but resilient Warren held his shares until they rebounded to $40. He promptly sold them - a mistake he would soon come to regret. Cities Service shot up to $200. The experience taught him one of the basic lessons of investing: patience is a virtue.

Warren Buffett's Education

In 1947, a seventeen year old Warren Buffett graduated from High School. It was never his intention to go to college; he had already made $5,000 delivering newspapers (this is equal to $42,610.81 in 2000). His father had other plans, and urged his son to attend the Wharton Business School at the University of Pennsylvania. Buffett stayed two years, complaining that he knew more than his professors. When Howard was defeated in the 1948 Congressional race, Warren returned home to Omaha and transferred to the University of Nebraska-Lincoln. Working full-time, he managed to graduate in only three years. Warren Buffett approached graduate studies with the same resistance he displayed a few years earlier. He was finally persuaded to apply to Harvard Business School, which, in the worst admission decision in history, rejected him as "too young". Slighted, Warren applied to Columbia where famed investors Ben Graham and David Dodd taught - an experience that would forever change his life.

Ben Graham - Buffett's Mentor

Ben Graham had become well known during the 1920's. At a time when the rest of the world was approaching the investment arena as a giant game of roulette, he searched for stocks that were so inexpensive they were almost completely devoid of risk. One of his best known calls was the Northern Pipe Line, an oil transportation company managed by the Rockefellers. The stock was trading at $65 a share, but after studying the balance sheet, Graham realized that the company had bond holdings worth $95 for every share. The value investor tried to convince management to sell the portfolio, but they refused. Shortly thereafter, he waged a proxy war and secured a spot on the Board of Directors. The company sold its bonds and paid a dividend in the amount of $70 per share. When he was 40 years old, Ben Graham published Security Analysis, one of the greatest works ever penned on the stock market. At the time, it was risky; investing in equities had become a joke (the Dow Jones had fallen from 381.17 to 41.22 over the course of three to four short years following the crash of 1929). It was around this time that Graham came up with the principle of "intrinsic" business value - a measure of a business's true worth that was completely and totally independent of the stock price. Using intrinsic value, investors could decide what a company was worth and make investment decisions accordingly. His subsequent book, The Intelligent Investor, which Warren celebrates as "the greatest book on investing ever written", introduced the world to Mr. Market - the best investment analogy in history.
Through his simple yet profound investment principles, Ben Graham became an idyllic figure to the twenty-one year old Warren Buffett. Reading an old edition of Who's Who, Warren discovered his mentor was the Chairman of a small, unknown insurance company named GEICO. He hopped a train to Washington D.C. one Saturday morning to find the headquarters. When he got there, the doors were locked. Not to be stopped, Buffett relentlessly pounded on the door until a janitor came to open it for him. He asked if there was anyone in the building. As luck (or fate) would have it, there was. It turns out that there was a man still working on the sixth floor. Warren was escorted up to meet him and immediately began asking him questions about the company and its business practices; a conversation that stretched on for four hours. The man was none other than Lorimer Davidson, the Financial Vice President. The experience would be something that stayed with Buffett for the rest of his life. He eventually acquired the entire GEICO company through his corporation, Berkshire Hathaway.

Source : http://beginnersinvest

Thursday, September 22, 2011

IHSG Jatuh, Saatnya Beli Reksa Dana

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergolak dan memasuki fase decline. Ini ditunjukan dengan kejatuhan Indkes lebih dari 200 poin ke level 3.400. Namun kondisi ini justru menjadi peluang investor reksa dana untuk melakukan subscription atau penambahan investasi.

Mengapa demikian? Karena kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga, kinerja keuangan emiten masih mencatat pertumbuhan. Artinya valuasi saham-saham big cap saat ini tergolong lebih murah, dan akulumasi investasi menjadi salah satu langkah tepat.

Hal ini disampaikan Manager Mutual Funds Sales PT Schroder Investment Management Indonesia, B.E. Iriawan Djaja, dalam perbincangannya dengan detikFinance, di Jakarta, Kamis (22/9/2011).

"Kondisi saat ini harusnya kesempatan subscription. Market memang hari ini turun 5%, namun untuk saham-saham besar apa laba mereka turun? Tidak kan. Market kita hari ini terlihat dari pelemahan rupiah yang sempat berada di Rp 9.300 (per dolar AS)," jawabnya.

Bagi yang tidak hendak melakukan subscription, juga tak perlu panik. Dengan karakter investasi jangka panjang, reksa dana masih relatif aman dibandingkan investasi langsung di pasar modal.

"Reksa dana itu kan investasi portofolio dan ada diversifikasi. Kalau saham kan naik, turun. Dia lebih panjang," ucap Bonny.

Dan perlu dipahami, bahwa investasi reksa dana jangan dilakukan hanya satu atau dua kali. Namun reguler melalui skema dolar cost averaging. Dengan demikian maka risiko volatility akan tereduksi.

"Kapan masuk itu tidak bisa ditentukan. Karena reksa dana bukan market timing. Tapi masuk secara bertahap, karena meminimalkan risiko. Bagi yang sudah ada (reksa dana) stay itu saja," terangnya.

Indeks hari ini memang masih amburadul, dengan koreksi yang cukup dalam dan paling besar di Asia. Dari mengawali IHSG 3.616,071, langsung merosot ke posisi 3.470,83, tergerus 226,663 poin (6,14%).

Sementara rupiah tak kuasa mengalami pelemahan dan kini berada di kisaran Rp 9.045 per dolar AS. Bandingkan posisi rupiah pagi ini yang ada pada level Rp 8.950 per dolar AS. Namun pagi tadi, untuk Non Deliverable Forward (NDF) rupiah terhadap dolar AS sudah di posisi Rp 9.300.
Sumber : finance.detik.com
Whery Enggo Prayogi - detikFinance

Wednesday, September 14, 2011

Tips Membeli Emas

Seperti diberitakan harga emas mencetak rekor dengan mencapai level harga 1.920 dollar AS per troy ounce pada Selasa (6/9/2011). Pertumbuhan harga emas telah mencapai 33 persen sepanjang Januari hingga Agustus 2011.Hal ini mendorong masyarakat berbondong-bondong untuk berinvestasi emas. Namun demikian,berinvestasi emas ternyata tidak bisa sembarang saja dilakukan dengan cara beli, beli, dan terus beli ketika harga sedang turun. Sebelum membeli, investor harus tahu kapan emas akan dijual.Kenapa begitu? Stock and Option Strategist Profit Guide Institute Doni Prabawa, memberikan beberapa tips penting dalam berinvestasi logam mulia sebagai berikut :
Pertama, jangan membeli emas denga cara ”membabi buta” saat ada kesempatan. ”Perhatikan pola pergerakan (harga emas). Gunakan money management yang baik.
Apa maksudnya money management yang baik? Jika masyarakat mempunyai dana, misalnya Rp 100 juta, jangan semuanya dihabiskan untuk membeli emas. Sebaiknya dana dibagi untuk investasi yang lain (diversifikasi investasi).
Kedua, masyarakat harus ingat atau selalu berasumsi bahwa emas tetap merupakan komoditas yang harganya bisa naik dan turun. Sebelum membeli emas, kita harus tahu kapan kita mau jual. Hal ini harus diketahui, baik dalam kondisi rugi maupun untung. Lalu, kapan waktu terbaik dalam membeli emas?
Ada sejumlah tips tambahan untuk hal ini :
Perhatikan indikator-indikator teknikal dengan melihat grafiknya. Syarat tersebut merupakan syarat dasar di mana investor dapat melihat historis harga emas melalui, misalnya, analisis teknikal Elliott Wave.
Kombinasikan analisis teknikal dengan faktor fundamental. Maksudnya, investor harus awas dengan info-info pasar dan berita-berita yang ada. Maklum saja, harga emas yang kian tinggi sekarang ini, karena dipengaruhi oleh kondisi krisis yang dialami oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat. Jadi, pelaku pasar harus tahu ini juga.
Kemungkinan harga emas naik cukup besar. Untuk tahun ini saja, diprediksi harga emas berpeluang menyentuh 2.000 dollar AS per troy ounce (setara dengan 31,1 gram).
Past 10 years (selama satu dekade), awal November hingga akhir Februari, emas selalu positif (pergerakan harganya). Hal ini menunjukkan peluang harga emas untuk terus naik menjelang akhir tahun itu terbuka melihat sisi historisnya. Apalagi ditambah dengan kondisi krisis di AS dan Eropa. Biasanya faktor fundamental dengan teknikal berjalan beriringan.

Sumber : kompas.com , bisnis dan keuangan

Thursday, February 1, 2007

The Way To Make Money

Why is it that 90% of the population find it so difficult to become rich? It is because all of us have been told the greatest lie of all, the lie that has been keeping us from becoming rich.

Before you can ever become wealthy, you must first discover the truth about wealth and remove the wool that has been pulled over your eyes for way too long.

Let me start off by asking you to do a simple exercise. I would like you to close your eyes and picture a millionaire in your mind.

Picture the clothes the person is wearing, the car he drives, how he spends his money, how he spends his day and how he dines. Go ahead and do this NOW before you go onto the next paragraph.

Well, what picture came into your mind?

If you are like most people, you would have pictured a millionaire as someone who wears the latest, branded clothes, who drives the newest luxury--car model, who spends lavishly, who dines in fine restaurants and spends on the priciest, choicest dishes and most superb wines.

You may have imagined someone who is relaxing in a cushy leather upholstered armchair in his mansion or yacht, puffing on his Havana cigar. Why is this so?

It's because of the way we have been brainwashed by television and movies to think this is the way millionaires live and spend their money. It is precisely these beliefs and habits that actually keep us from becoming wealthy!

The truth is that very few self-made millionaires live this way. In fact, the only ones who do live this indolent, self-indulgent lifestyle are the minority of millionaires who either inherited all their wealth or who made their money through sports or entertainment. And all of them usually have one thing in common.

They inevitably end up losing everything within ten years. Their wealth is only temporary. Look at Mike Tyson, Michael Jackson, Bobby Brown and a whole list of other celebrities who made hundreds of millions within their careers. They are either all broke or heavily in debt today.

In the New York Times Best-Selling book 'The Millionaire Next Door', Thomas J. Stanley interviewed 300 self-made American millionaires to find out how they think, how they earn their money and how they spend their wealth. What he discovered was a shocking revelation that made his book an instant best-seller.

It was discovered that many people who had high paying jobs, drove the latest luxury cars and wore the latest designer clothes and who appeared to be have millions to spend, were usually broke with a low personal net worth.

Most of these professionals and senior executives of multi-national companies were what he termed 'Under Accumulators of Wealth (UAW)'.

In contrast, those who were actual millionaires (that is those with a net worth of over US$1 million) lived very frugally and well below their means. Eighty-percent of them were born poor or from middle class families. They wore inexpensive suits and never bought a watch that cost more than S$500.

Most of them drove secondhand cars, never bought the latest models of vehicles and they usually invested a minimum of 20% of their income in the stock market or private businesses. He termed these people 'Prodigious Accumulators of Wealth (PAW)'.

So if creating a million dollar fortune is what you're aiming for, do what the actual millionaires do and you will accumulate wealth faster than the big spenders ever do.

==> http://thewaytomakemoney.com/secret1.html


-----
2007 Adam Khoo Learning Technologies Group. All Rights Reserved